Senoprabowo’s Weblog

Wilujeng Sumping ka Blog AgroSeno

“4 Sehat 5 Sempurna” Sudah Kuno

Posted by Seno Prabowo pada Januari 22, 2008

Beralihlah ke Gizi Seimbang Selasa, 18 April, 2006 oleh: Siswono Gizi.net – Siapa yang tak mengenal slogan 4 Sehat 5 Sempurna? Slogan yang digelindingkan sejak tahun 50-an itu memang sudah melekat dalam pedoman gizi bagi penduduk Indonesia. Namun seiring berkembangnya pengetahuan, pola itu ternyata tidak lagi memadai. Para ahli bahkan mengingatkan, tinggalkan slogan itu!

Benarkah itu? Ya, tidak salah lagi. Menurut Profesor Dr Soekirman, ”Ada hal-hal dalam slogan 4 sehat 5 sempurna yang tidak lengkap.” Guru besar Ilmu Gizi di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini melanjutkan, ”Pedoman Gizi Seimbang (PGS) adalah penyempurnaan dari 4 sehat 5 sempurna. Jika slogan lama menyebutkan jenis makanannya, namun dalam pedoman gizi seimbang, disebutkan pula bahwa makan pun harus disesuaikan dengan aktivitasnya.”

Perubahan pola dari 4 sehat 5 sempurna ini menjadi PGS diluncurkan kembali oleh sepuluh ahli gizi di Indonesia. Langkah ini ditandai dengan peluncuran tulisan mereka yang dirangkum dalam buku Hidup Sehat: Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan Manusia, bekerja sama dengan sebuah jaringan pasar swalayan di Indonesia, Ranch Market.

Enam prinsip

Menurut Soekirman, ada enam prinsip yang harus dipegang dalam PGS.

Pertama, membiasakan konsumsi beraneka ragam makanan.
Semakin banyak ragamnya, semakin baik. ‘Karena tidak ada makanan super yang mengandung berbagai macam zat gizi, kecuali Air Susu Ibu (ASI). Itu pun ASI hanya untuk bayi berusia 0 sampai 6 bulan,’ kata Soekirman. Nasi, misalnya, kaya akan karbohidrat dan sedikit protein. Tetapi nasi miskin vitamin, mineral, lemak, dan serat. Jadi harus dimakan bersama lauk-pauk, sayuran, dan buah.

Kedua, memperhatikan dan mempertahankan berat badan ideal.
Berat badan, kata Soekirman, adalah hasil olahan dari jenis dan jumlah makanan yang kita makan dengan kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan. Makan enak dengan sedikit karbohidrat tetapi banyak daging, lemak, dan manis-manis tanpa diimbangi olah raga atau aktif dalam kegiatan lain, berarti ada kelebihan kalori. Surplus kalori ini akan diubah menjadi lemak badan dan akibatnya, Anda akan menjadi kegemukan. Nah, para eksekutif muda yang kerap menjamu kliennya dengan makanan yang enak-enak, harus berhati-hati, kata Soekirman.

Ketiga adalah mengatur porsi makan.
Dalam hal ini, kebutuhan makan tiap individu berbeda karena tergantung aktivitasnya. Makin aktif, maka makin banyak dibutuhkan kalori. Jadi, jangan lupa mengingat kalori yang masuk saat kita menyantap makanan.

Keempat adalah menjaga keamanan makanan.
Makanan yang siap disantap, harus pula dijaga keamanannya. Agar tidak terkontaminasi atau kotor, misalnya gunakan tudung saji, kata Soekirman. Selain itu, makanan juga dijaga agar tidak mengandung zat berbahaya. Soekirman mengingatkan, agar jika membeli makanan dalam kemasan, kita harus memperhatikan label makanan. Sementara tren terbaru yaitu masyarakat yang gemar makanan organik, yaitu bahan pangan yang dihasilkan tanpa menggunakan bahan kimia.

Kelima, adalah patokan khusus untuk kelompok masyarakat yang memiliki masalah gizi tertentu.
Misalnya kurang vitamin atau mineral tertentu. Makanya pemerintah juga sudah melakukan upaya fortifikasi yaitu proses penambahan zat tertentu. Misalnya pada garam, sudah ditambahkan yodium. Kemudian pada tepung terigu ditambahkan zat besi, kata Soekirman yang ketua pembina Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), LSM yang beergerak di bidang fortifikasi pangan. Terakhir yaitu keenam, PGS yang sifatnya khusus. Ini dapat digolongkan misalnya menurut usia (bayi, balita, remaja, dewasa, dan manula), menurut kelompok ekonomi, bahkan menurut kelompok budaya makanan.

PGS menurut usia

Nah, PGS menurut kelompok usia ini dirinci dalam buku Hidup Sehat: Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan Manusia ini. Untuk ibu hamil, Sri Wahjoe Soekirman, MPS mengingatkan bahwa kebutuhan gizi ibu dan janin harus dicukupi.

Pada ibu hamil berusia 19 sampai 29 tahun, Sri menyarankan untuk makan sebesar 2200 kalori per hari. Sementara bagi ibu yang menyusui, Sudarmani Djoko M Kes menyebutkan pentingnya pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Semakin gemuk (tinggi IMT) akan menghasilkan ASI dengan kandungan lemak dan energi yang tinggi pula. Selain itu, makin tinggi dan makin gemuk si ibu, ASInya akan lebih banyak pula.

Sudarmani menyebutkan, bagi ibu menyusui dengan bayi berusia 0-6 bulan, ia harus diet 2900 kalori per hari. Saat si bayi berusia 7-12 bulan, si ibu cukup diet 2700 kalori per hari. Pada bayi dan balita, Tuti Sunardi kembali menyebutkan pentingnya ASi pada usia 0 sampai 6 bulan, tanpa diberikan tambahan apa pun. Baru setelah itu, ia harus diperkenalkan dengan makanan yang berfungsi sebagai pendamping ASI (bukan pengganti ASI).

Tuti menguraikan, anak berusia 1 sampai 3 tahun membutuhkan diet 1300 kalori per hari. Pada usia 4-5 tahun, meningkat menjadi 1500 kalori. Untuk anak usia sekolah dasar, Prof Dr Muhilal dan Didit Damayanti MSc mengingatkan komposisi tubuh anak sudah mulai berubah. Termasuk mulai berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Mereka mengingatkan pentingnya sarapan sebelum sekolah. Untuk usia sekolah dasar, kedua ahli gizi ini menyarankan makanan 1921 kalori per hari.

Bagi remaja dan wanita usia subur, Dr Husaini Mahdin Anwar MSc, APU mengingatkan bahwa pada usia ini terjadi akil balig. Pada usia ini terjadi perubahan fisiologis dan mental. Diet untuk mereka dibutuhkan 2500 kalori per hari.

Gizi untuk usia prakonsepsi diulas Prof Dr dr Darwin Karyadi. Ia mengingatkan, usia ini masuk periode kritis. Gizi suami dan istri pada masa tiga hingga enam bulan sebelum hamil inilah masa yang menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Darwin menyebutkan sepuluh jenis makanan yang penting pada masa ini yaitu alpukat, daging sapi, kol, wortel, kiwi, dan lain-lain.

Usia dewasa, yaitu usia akhir 20 tahunan sampai akhir 50 tahun. Pritasari SKM MSc menyebutkan, gaya hidup sehat dan teratur akan menjaga kondisi pada usia lanjut. Pada masa produktif ini, terdapat risiko penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes melitus, dan hipertensi. Pada usia ini ada beragam takaran diet, mulai dari 1500 kalori hingga 2200 kalori. Ini tergantung pada aktivitas yang dilakukan.

Gizi pada usia lanjut pun penting diperhatikan. setelah tubuh mencapai tingkat kedewasaan, terjadi proses pengrusakan yang melebihi proses pembangunan. Inilah yang disebut aging atau menua. Pada usia ini, Dr Sunita Almatsier, MSc, menyebutkan diet 1750 kalori per hari. Ia menyebutkan pentingnya vitamin E sebagai antioksidan dan memperlambat proses penuaan. Namun di antara uraian para ahli dalam buku tersebut, Soekirman pun mengingatkan, salah satu fungsi makanan adalah untuk dinikmati. Tak heran jika dalam PGS di Jepang, butir yang terakhir menyebutkan, Enjoy your food. Jadi, terapkan gizi seimbang dan enjoy!

Satu Tanggapan to ““4 Sehat 5 Sempurna” Sudah Kuno”

  1. ranee said

    yang benar itu PGS atau PUGS …??
    Apa benar ada 13 butir isi PUGS …??
    Jika ia, apa saja isinya ..??
    Thanks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: