Senoprabowo’s Weblog

Wilujeng Sumping ka Blog AgroSeno

Lalat Mengancam Kesehatan Keluarga

Posted by Seno Prabowo pada Januari 21, 2008

WASPADA Online  LALAT hampir seluruhnya hidup dari kotoran, berkembang biak dengan cepat pada bermacam-macam benda busuk sehingga banyak terlihat pada tempat-tempat dimana terjadi banyak peristiwa pembusukan, misal tempat penampungan sampah.

Tempat yang paling disenangi oleh lalat adalah tempat yang basah dan kaya zat-zat organik yang sedang membusuk seperti sampah basah, kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan busuk dan kotoran hewan yang menumpuk secara kumulatif (di kandang).

Lalat berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan panjang lebih kurang 1 mm. Sepasang lalat dapat berkembang biak sampai berjuta-juta hanya dalam beberapa minggu. Tiap lalat betina mampu menghasilkan 2000 butir telur dan banyak di antaranya dapat mencapai masa dewasa dalam tempo 12 hari.

Pada suhu rendah (di bawah 12-13 derjat Celcius) telur lalat tidak akan menetas. Untunglah tidak semua lalat dapat hidup sampai dewasa. Lalat banyak musuhnya tetapi masih cukup banyak yang hidup terus sehingga menimbulkan berbagai persoalan terutama persoalan kesehatan dan gangguan kenyamanan pada manusia. Keberadaan lalat merusak pemandangan karena dari segi estetika terkesan jorok.

Ada banyak jenis lalat tetapi yang paling banyak merugikan manusia jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia seretica), lalat biru (Calliphora vornituria) dan lalat latirine (Fannia canicularis). Dari beberapa jenis ini lalat rumah paling dikenal sejak lama sebagai pembawa penyakit dan tersebar di berbagai penjuru dunia.

Lalat bukan saja merupakan gangguan kenyamanan tetapi juga dapat mengancam kesehatan keluarga. Lalat dapat membawa bermacam-macam mikroba penyebab penyakit atau kuman yang berbahaya pada kakinya dan pada rambut-rambut halus yang ada di seluruh tubuhnya serta di dalam tubuhnya.

Penularan penyakit oleh lalat terjadi secara mekanis. Lalat hinggap pada makanan sehingga kuman yang menempel pada tubuh lalat tadi akan mencemari makanan yang akan dimakan. Ketika makanan tersebut disantap secara otomatis kuman yang ada pada makanan tersebut pun akan masuk ke dalam saluran pencernaan kita.

Itu sebabnya sebagian besar penyakit yang ditularkan oleh lalat adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan misalnya tifus abdominalis, kolera, tifoid, diare, disentri dan lain-lain. Di samping penyakit-penyakit perut, lalat juga dapat menularkan penyakit-penyakit lain seperti scarlatina, difteria dan penyakit gatal-gatal pada kulit.

Lalat juga mungkin membawa virus penyakit polio dan penyakit-penyakit lain yang berbahaya. Di mana saja lalat itu hinggap di situlah mereka meninggalkan kotoran dan kuman-kuman. Lalat biasa yang mungkin tampaknya kecil dan tidak berarti justru mungkin sangat berbahaya.

Bagaimana menghindari atau mecegah penyakit-penyakit yang ditularkan oleh lalat ? Pertama, kita harus mengusahakan agar jumlah lalat di dalam rumah dan lingkungan kita seminimal mungkin. Kalau bisa jangan sampai ada lalat di dalam rumah. Kalau lingkungan sangat kondusif untuk pertumbuhan lalat mungkin ada baiknya memasang pintu dan jendela kasa agar hewan jorok ini tidak masuk ke dalam rumah. Jagalah agar kawat kasa ini terpasang dengan baik agar lalat-lalat kecil tidak dapat menyelinap masuk.

Sebetulnya ada beberapa cara atau teknik yang dapat dilakukan untuk memberantas atau mengurangi populasi lalat. Lalat dapat diberantas secara langsung dengan cara fisik, kimia dan biologi. Cara pemberantasan secra fisik adalah dengan menggunakan alat perangkap, umpan dan alat pembunuh elektrik. Ini cara pemberantasan paling mudah dan aman, tetapi kurang efektif apabila lalat dalam kepadatan populasi yang tinggi. Cara ini cocok digunakan pada skala kecil seperti di rumah, rumah sakit, kantor, hotel, supermarket dan lain-lain.

Pemberantasan lalat secara besar-besaran dapat dilakukan apabila ancaman penyakit yang ditularkan oleh lalat sudah sedemikian membahayakannya. Cara ini mempunyai banyak resiko, oleh sebab itu umumnya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga lain yang berwenang setelah mempertimbangkan urgensi dan resikonya. Cara pemberantasan besar-besaran ini dapat dilakukan secara kimia dengan menggunakan insektisida yang sesuai atau dengan menggunakan cara biologis dengan memanfaatkan pemangsa atau musuh alami lalat.

Cara-cara ini seharusnya hanya dilakukan untuk periode yang singkat apabila sangat diperlukan karena lalat dapat menjadi resisten dengan cepat di samping risiko bahaya insektisida yang tak kurang besarnya untuk manusia. Oleh sebab itu sebaiknya dilakukan apabila upaya-upaya lain tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Penggunaannya pun sangat cermat dan hati-hati.

Lalat juga dapat diberantas secara biologis yaitu dengan mendatangkan pemangsanya. Pemberantasan lalat secara biologi sampai saatini belum pernah dilakukan di Indonesia. Negara-negara lain seperti Thailand sering memberantas lalat dengan memanfaatkan sejenis semutkecil berwarna hitam (Phiedoloqelon affinis) untuk mengurangi populasi lalat rumah di tempat-tempat sampah. Cara biologis ini merupakan cara yang lebih aman dibandingkan penggunaan insektisida.

Cara terbaik untuk melindugi rumah dari gangguan lalat ialah mencegah jangan sampai lalat itu suka tinggal dan berkembang biak di rumah dengan selalu menjaga kebersihan dan kerapihan rumah terutama dapur dan ruang makan. Semua tempat sampah hendaknya bertutup sehingga tidak mengundang lalat datang.

Bila perlu semprot tempat sampah dengan obat pembasmi kuman seperti karporit. Sampah basah sebaiknya segera dibuang ke tempat penampungan sampah umum jangan dibiarkan lebih dari 12 jam dalam rumah agar tidak mengundang kedatangan lalat.

Jagalah makanan dengan menyimpannya di lemari makan atau lemari es yang baik, jika ada. Ini akan mencegah agar makanan tidak menjadi basi. Ini juga menghindarkan lalat dan gangguan binatang lain. Bila ventilasi lemari makan cukup besar, lapisi lagi dengan kawat kasa agar serangga kecil pun tidak dapat masuk.

Tutup semua makanan yang terhidang di meja makan atau di tempat-tempat terbuka lainnya dengan tudung saji yang lubang-lubangnya cukup kecil. Biasakan seluruh anggota keluarga dengan disiplin ini karena jika tidak upaya kita akan sia-sia.
* Dra Astri Rozanah (sh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: